Whenever death may surprise us, let it be welcome if our battle cry has reached even one receptive ear and another hand reaches out to take up our arms
Ernesto 'Che' Guevara

Rabu, 01 Juni 2011

Film Shadow Play Dan POSISI KEBANGSAAN INDONESIA (SEBUAH REFLEKSI)

Pendahuluan
Peristiwa tragis 30 September 1965 pasti tidak dapat dilupakan oleh bangsa Indonesia. Betapa tidak, pada malam itu telah terjadi pembunuhan terhadap beberapa jendral yang memiliki pengaruh besar dalam perjalanan bangsa Indonesia. Setelah peristiwa tersebut dan selanjutnya, pengalaman pahit tidak pernah dapat terlupakan. Terutama pada para anggota Partai Komunis Indonesia (PKI) dan semua orang yang dianggap berafiliasi dengan PKI.
Tetapi apakah sebenarnya yang terjadi? Benarkah PKI berada di balik semua kejadian tersebut? Benarkah seperti apa yang selalu didengungkan oleh Soeharto dengan rejim Orde Baru-nya? Sebuah peristiwa dengan trauma mendalam yang tidak mungkin dihilangkan dari memori bangsa Indonesia telah terjadi. Tetapi, menyitir pernyataan seorang filsuf, kebenaran tetaplah kebenaran, betapapun kebenaran itu disembunyikan.


Sebuah Kebenaran Diungkap
Film documenter Shadow Play, menunjukkan pada penikmat film bagaimana perjalanan politik di Indonesia. Para pemain politik menggunakan media, memutarbalikkan fakta, memotong berita yang sebenarnya, melakukan penghalusan kata. Banyak fakta dibungkam, suara kebenaran dimanipulasi, sehingga segala sesuatu “kelihatan baik-baik”. Sekalipun terdapat banyak korban ditangkap, dan dipenjarakan dengan tuduhan yang tanpa bukti, tanpa diadili, dan bahkan ditangkap tanpa surat penangkapan.
Film yang garis besarnya membuka kebekuan kisah pembantaian jutaan orang di Indonesia puluhan tahun silam, setelah tragedi Gerakan 30 September 1965 (G30/S) ini, berbicara mulai dari bagaimana prisip Soekarno sebagai Presiden Republik Indonesia pada waktu, berkenaan dengan perang dingin yang dilakukan oleh dua Negara besar dunia.
Presiden Soekarno memiliki keinginan untuk menyatukan multipluralitas yang ada di Indonesia. Soekarno menerima semua ideologi yang ada di Indonesia (Nasionalisme, Islamisme, Komunisme) selama mereka (partai-partai) tidak menimbulkan masalah dan kerusakan di Negeri Indonesia. Demikian juga sikap Soekarno ini diterapkan dalam politik luar negerinya untuk tidak memihak kepada salah satu blok negara yang sedang melancarkan perang dingin (Blok Timur dan Barat).
Namun ambisi Indonesia tersebut harus berhadapan dengan kondisi politik dunia. Bagi kedua blok berseteru tersebut, menurutnya Indonesia harus menentukan sikap. Namun waktu itu Indonesia menentukan sikap non-blok. Tanpa memilih salah satu blok. Amerika sepertinya negara yang paling kurang puas dengan pilihan Indonesia tersebut, meskipun selesai pidato Soekarno dalam Kongres Amerika, Indonesia menyatakan keinginannya untuk menjalin hubungan baik dengan Amerika. Apalagi setelah kunjungan Presiden Soekarno ke Cina dan Uni Soviet, tiga bulan setelah kunjungannya dari Kongres Amerika. Hal tersebut dipandang oleh Amerika dan sekutunya, bahwa Soekarno adalah rekan yang membahayakan. Karena Soekarno dianggap telah menyebarang ke Komunis. Sejak saat itu Indonesia dipandang sekutu yang membahayakan bagi Blok Barat.
Sejak saat itu Amerika dan sekutunya berusaha untuk menggulingkan Soekarno dari kursi pemerintahannya. Berbagai cara dilakukan. Mulai dengan mensponsori pemberontakan yang dilakukan oleh pergerakan-pergerakan di Indonesia, salah satunya di Sumatera. Dan melalui pidatonya dalam sidang PBB, Soekarno mengecam negara-negara imperialis dan kolonialis Barat yang terlalu mencampuri negara-negara ketiga, termasuk Indonesia. Soekarno lebih tersinggung lagi dengan sikap Inggris yang membangun sebuah negara bentukan baru di perbatasan Malaysia-Indonesia tanpa mengikut sertakan Indonesia dalam perundingan. Sehingga Soekarno menyerukan jargon “Ganyang Malaysia” atas sikap yang dipandangnya arogan tersebut.
Melihat hal tersebut Inggris tidak tinggal diam, Inggris mengirimkan ahli propagandanya Norman Reddaway ke Singapore, untuk memimpin perang propaganda guna meruntuhkan Soekarno. Di sini terlihat bagaimana propaganda atau media komunikasi sangat berperan dalam politik. Tak segan-segan negara kapitalis Inggris mengucurkan dana besar guna membiayai perang propaganda tersebut. CIA melancarkan tuduhan-tuduhan miring untuk menggulingkan Soekarno, mulai dari memproduksi film-film porno Soekarno, pemotongan berita-berita yang mengesankan tentang Soekarno, dll.
Kondisi-kondisi yang memojokkan Soekarno tersebut membuatnya semakin geram terhadap negara kapitalis imperialis. Soekarno yang memang telah dekat dengan komunis, semakin membuatnya lebih dekat dengan komunis dalam partai komunisnya. Dan Soekarno pun menentukan sikapnya untuk keluar dari PBB dan menyatakan akan mendekatkan diri dengan Peking dan Hanoi. Protes Soekarno tersebut membuat negara-negara sekutu semakin geram terhadap Soekarno, sehingga Negara-negara Barat (dengan CIA-nya) semakin gencar memikirkan cara untuk menurunkan Soekarno dari tahtanya.
CIA pun mendekati Angkatan Darat Indonesia untuk dapat melancarkan niatnya menurunkan Soekarno dari tahtanya. CIA menggunakan memorial lama bangsa Indonesia tentang percobaan kudeta partai komunis yang pernah gagal dilancarkan, untuk meruntuhkan partai komunis dari Indonesia dan mungkin sekaligus Soekarno yang telah sangat dekat dengan partai komunis.
Sehingga tragedi yang dikenal G30/S terjadi dengan begitu dramatis. Tragedi yang menewaskan enam jendral tinggi Indonesia pada waktu itu terjadi dengan begitu bersih, dan disempurnakan dengan propaganda-propaganda, isu-isu kemudian di media melalui radio, selebaran-selebaran, pembuatan film yang mendramatisir tragedi G30/S tentunya dengan fakta-fakta yang tidak jelas, dll. Dan dipercantik dengan membungkam orang-orang yang dianggap terkait di dalamnya tanpa surat penangkapan, dengan tuduhan-tuduhan yang diada-adakan, pembantaian besar-besaran pun terjadi untuk memuluskan politik praktis yang dilancarkan.
Dan pembungkaman tersebut dilakukan terus-menerus oleh Orde Baru yang muncul kemudian setelah Soekarno diturunkan dari tahtanya. Hal tersebut sepertinya untuk mengamankan posisinya, supaya lebih aman. Kesaksian-kesaksian dari para korban dibungkam, kehidupannya dan keturunannya terancam. Dalam film ini juga diberitahukan korban pembantaian dari tragedi tersebut tidak kurang tiga juta jiwa penduduk Indonesia yang belum tentu semuanya bersalah.

Di Antara Dua Gajah
Posisi Indonesia mungkin agak serupa dengan petikan sebuah pepatah ‘berada di antara dua gajah yang sedang bertarung’. Memang kita tidak boleh merasa sebagai ‘semut’ yang pasti lemah dan terinjak-injak. Namun pilihan Soekarno untuk tumbuh menjadi ‘gajah baru’ di Asia Tenggara harus dicermati secara seksama.
Sebagai sebuah pilihan politik, mensponsori Gerakan Non-Blok merupakan sebuah langkah berani. Bahwa kemudian pengaruh Barat lebih menonjol dalam percaturan politik Indonesia, itu adalah hal lain. Indonesia memang harus menentukan sikapnya. Dan sesuai dengan cita-cita untuk mewujudkan kesejahteraan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, maka tidak ada pilihan lain kecuali berdiri di atas kaki sendiri (berdikari) dan tidak ‘menghamba’ kepada salah satu blok.
Namun demikian, ada catatan kritis yang mungkin telah diperhitungkan, hanya tidak dapat ditangani dengan baik. Catatan itu adalah tentang belum terhayatinya kebersamaan dalam kesatuan cita-cita. Maka perbedaan-perbedaan antara faksi-faksi yang ada (Nasionalis, Islam, dan Komunis) dengan mudah dimanfaatkan oleh Barat untuk melemahkan, bahkan menghancurkan cita-cita tersebut. Peran CIA dalam proses penggulingan kekuasaan Sukarno membuktikan hal tersebut.

Penutup
Dari film tersebut memberitahukan betapa ngerinya kekuasaan. Dengan kekuasaan, kedaulatan pemimpin membuatnya sangat dekat dengan kesewenang-wenangan. Pemutar-balikan fakta dan manipulasi sejarah bisa saja dilakukan. Demi sebuah kekekalan kekuasaan. Kekuasaan yang seharusnya dimaknai sebuah mandat untuk melayani massa rakyat, namun dengan kekuasaan pula dapat membuat orang melayani diri atau golongan.
Media propaganda sangat berperan dalam pembentukan masyarakat, dan sejarah. Bagaimana propaganda juga dapat meruntuhkan dan mengukuhkan kekuasaan. Masyarakat tidak diberi waktu untuk berpikir karena terus dicekoki dengan propaganda-propaganda, dan diintimidasi dengan kekuatan militer penguasa.
Maka, ‘pekerjaan rumah’ yang harus diselesaikan bangsa Indonesia adalah membangun kesepahaman tentang moralitas bangsa, apa yang secara bersama kita cita-citakan. Bila tidak, maka dengan mudah kepentingan kelompok dalam bangsa akan ditunggangi oleh kepentingan internasional.

Selasa, 24 Mei 2011

MENGAPA KITA MEMBUTUHKAN TEORI MARXIS?

Butuh teori? Untuk apa? Kita tahu ada krisis. Kita tahu kita dirampok oleh majikan-majikan kita. Kita tahu kita semua marah. Kita tahu kita membutuhkan sosialisme. Lalu apa? Teori? Teori adalah jatahnya kaum intelektual semata!

Saudara sering mendengar kata-kata seperti itu baik dari kaum sosialis militan maupun kaum serikat buruh. Ironis. Sebab pandangan-pandangan seperti itu sangat didukung oleh kaum anti-sosialis. Sebabnya jelas, mereka berupaya memberi kesan bahwa Marxisme adalah sebuah ajaran yang tidak jelas, rumit, dan membosankan. Kata mereka, idea-idea sosialis itu “abstrak”. Mungkin saja idea-idea itu benar dalam teori, tetapi dalam kehidupan nyata … akal sehat memberitahu kita sesuatu yang berbeda sama sekali!

Ada problem dengan argumen-argumen tersebut: orang-orang yang mengemukakannya biasanya memiliki suatu “teori” tertentu. Ya, teori mereka sendiri. Bahkan sekalipun misalnya mereka menolak untuk mengakuinya! Ajukanlah kepada mereka pertanyaan tentang masyarakat, dan mereka akan berusaha menjawabnya dengan generalisasi yang ini atau yang itu. Contohnya:

“Menurut kodratnya, manusia itu serakah.”
“Siapapun dapat mencapai puncak jika berusaha cukup keras.”
“Bila bukan karena orang kaya, tidak akan ada uang, tidak akan ada pula lapangan pekerjaan untuk sebagian besar dari kita.”
“Bila saja kita dapat mendidik para pekerja, masyarakat akan berubah.”
“Kemerosotan moral telah membuat negeri kita jadi runyam seperti ini.”

Perhatikanlah argumen yang kerap kita dengar di jalan-jalan, di dalam bus-bus kota, di kantin-kantin. Saudara akan mendengar lusinan perkataan seperti itu. Setiap perkataan memuat suatu pandangan tentang mengapa masyarakat jadi seperti sekarang dan tentang bagaimana orang-orang dapat memperbaiki keadaan mereka. Pandangan-pandangan itu semuanya adalah “teori-teori” tentang masyarakat. Ketika orang-orang berkata bahwa mereka tidak mempunyai teori apapun, sesungguhnya mereka bermaksud mengatakan bahwa mereka tidak atau belum mengklarifikasi pandangan-pandnagan mereka.

Secara khusus ini berbahaya bagi siapa pun yang sedang berupaya mengubah masyarakat. Sebab surat-surat kabar, radio, TV, dsb., semuanya terus-menerus mengisi pikiran kita dengan penjelasan-penjelasan tentang problem-problem masyarakat. Tentu saja kita diharapkan untuk menerima apapun yang mereka katakan tanpa berpikir lebih lanjut tentang problem-problem tersebut.

Tapi Saudara tidak dapat bertarung secara efektif untuk mengubah masyarakat kecuali Anda menyadari apa yang salah di dalam semua argumen yang berbeda-beda itu.

Pertama kali hal ini nampak sekitar satu atau dua abad yang lalu. Pada tahun-tahun 1830-an dan 1840-an, perkembangan industri di kawasan-kawasan seperti barat-laut Inggris telah menarik ratusan ribu laki-laki, perempuan, dan anak-anak ke dalam pekerjaan-pekerjaan dengan imbalan penderitaan. Mereka terpaksa menanggung kondisi-kondisi hidup yang luar biasa memprihatinkan. Mereka mulai balik melawannya melalui organisasi-organisasi massa pekerja yang pertama: serikat-serikat buruh yang pertama, dan di Inggris gerakan pertama untuk hak-hak politik para pekerja. Bersama dengan gerakan-gerakan ini ada kelompok-kelompok kecil pertama dari orang-orang yang berdedikasi untuk memenangkan sosialisme.

Problem segera muncul: bagaimana gerakan para pekerja dapat mencapai tujuannya?

Menurut beberapa orang, mungkin saja kita meyakinkan para penguasa masyarakat supaya mereka mengubah keadaan yang tidak adil itu melalui sarana-sarana damai. “Kekuatan moral” dari sebuah gerakan massa yang damai akan memastikan bahwa keuntungan-keuntungan akan diberikan kepada kaum pekerja. Ratusan ribu orang diorganisir, berdemonstrasi, dan bekerja untuk membangun sebuah gerakan yang didasarkan pada pandangan-pandangan seperti itu. Hasilnya adalah kekalahan dan demoralisasi!

Beberapa orang lainnya mengakui perlunya menggunakan “kekuatan fisik”. Tapi mereka berpikir bahwa ini “kekuatan fisik” ini harus dilakukan oleh kelompok-kelompok kecil dan konspiratorial yang terpisah dari masyarakat. Pandangan ini membuat puluhan ribu pekerja masuk ke dalam perjuangan-perjuangan yang juga berakhir dengan kekalahan dan demoralisasi!

Beberapa orang lainnya lagi percaya bahwa kaum pekerja dapat mencapai tujuan-tujuan mereka dengan aksi-ekonomik, tanpa berkonfrontasi dengan tentara dan polisi. Pandangan ini pun menyebabkan aksi-aksi massa. Di Inggris, pada tahun 1842, pemogokan yang pertama di dunia terjadi di kawasan-kawasan industrial di sebelah utara. Puluhan ribu orang mogok selama empat minggu, sampai akhirnya mereka dipaksa kembali bekerja oleh kelaparan!

Menjelang akhir tahap pertama dari perjuangan-perjuangan yang keok itu, sosialis Jerman Karl Marx (1848) mencetuskan idea-ideanya dalam pamflet, Communist Manifesto. Idea-ideanya tidak lahir di ruang hampa. Idea-idea itu berupaya menyediakan suatu basis untuk menggumuli semua pertanyaan yang telah diajukan oleh gerakan kaum pekerja pada waktu itu.

Idea-idea yang dikembangkan Marx masih relevan hari ini. Beberapa orang memang terlalu tergesa-gesa untuk mengatakan bahwa idea-idea tersebut sudah usang karena Marx menuliskannya lebih dari 150 tahun yang silam. Faktanya, semua keyakinan tentang masyarakat yang dikritisi Karl Marx masih sangat luas berterima. Sebagaimana kaum Chartis berargumen tentang “kekuatan moral” atau “kekuatan fisik”, kaum sosialis masa kini berargumen tentang “jalan parlementer” atau “jalan revolusioner”. Di antara mereka yang mengaku revolusioner argumen yang mendukung atau menentang “terorisme” masih hidup sebagaimana halnya pada tahun 1848.

Kaum Idealis

Marx bukan orang pertama yang berupaya menggambarkan apa yang salah dengan masyarakat. Pada waktu ia menulis, penemuan-penemuan baru dalam kepabrikan telah mendatangkan kekayaan dengan skala yang tak terbayangkan oleh generasi-generasi sebelumnya. Nampaknya untuk pertama kalinya umat manusia memiliki sarana-sarana untuk mempertahankan dirinya terhadap bencana-bencana alam yang telah mendatangkan kesengsaraan selama berabad-abad.

Sayangnya, ini bukan berarti perbaikan dalam kehidupan sebagian terbesar orang. Justru kebalikannya. Para laki-laki, perempuan, dan anak-anak yang tergiring ke pabrik-pabrik baru telah menjalani hidup yang jauh lebih buruk daripada kehidupan yang dijalani oleh nenek moyang mereka yang harus memeras keringat mengerjakan tanah. Upah mereka hanya nyaris menaruh mereka above the bread line; pengangguran massal yang kerap kali terjadi membuat mereka jatuh ke bawah garis tersebut. Mereka terjerumus ke pemukiman-pemukiman kumuh yang sangat buruk dan kotor. Tanpa sanitasi yang memadai, mereka menjadi korban wabah penyakit yang mengerikan. Alih-alih mendatangkan kebahagiaan dan kesejahteraan umum, perkembangan peradaban memunculkan penderitaan yang lebih besar!

Bukan hanya Marx yang mencatat hal ini, tetapi juga beberapa pemikir besar pada zaman itu: orang-orang seperti penyair-penyair Inggris Blake dan Shelley, orang-orang Prancis Fourier dan Proudhon, serta para filsuf Jerman Hegel dan Feuerbach.

Hegel dan Feuerbach menggunakan istilah alienasi untuk menggambarkan keadaan tidak bahagia yang di dalamnya umat manusia menemukan dirinya. Umat manusia terus-menerus menemukan diri mereka dikuasai dan ditindas oleh apa yang telah mereka perbuat di masa lalu. Feuerbach menjelaskan: manusia telah mengembangkan idea tentang Allah, kemudian menyembahnya; ia menyembah “Allah” dengan digelayuti rasa sesal dan berdosa; sebab, ia tidak dapat memenuhi tuntutan-tuntutan “ilahi” yang sebenarnya telah dibuatnya sendiri. Semakin maju masyarakat, semakin sengsaralah orang-orang yang teralienasi itu.

Dalam tulisan-tulisannya yang paling awal, Marx mengambil konsep tentang “alienasi” ini dan menerapkannya pada kehidupan orang-orang yang menciptakan kekayaan masyarakat:

Si pekerja menjadi semakin miskin, sementara kian banyak kekayaan yang dihasilkannya; semakin besar daya dan tingkatan produksinya ... Meningkatnya nilai dunia-benda terjadi dalam perbandingan-langsung dengan merosotnya nilai dunia-manusia ... Obyek yang dihasilkan oleh kerja mengkonfrontirnya sebagai sesuatu yang asing, sebagai suatu kekuatan yang independen dari si produsen …

Pada zaman Marx, penjelasan yang populer tentang “apa yang salah” dengan masyarakat masih bercorak religius. Menurut penjelasan itu, kemalangan masyarakat disebabkan oleh kegagalan umat dalam melaksanakan kehendak Allah. Andai saja kita semua “menanggalkan dosa”, segala sesuatu akan berjalan dengan baik.

Pandangan yang serupa masih sering kita dengar sampai sekarang. Memang coraknya tidak selalu religius. Misalnya klaim yang mengatakan: “Untuk mengubah masyarakat, Anda pertama-tama harus mengubah dirimu sendiri.” Andai saja tiap-tiap orang, baik laki-laki maupun perempuan, dapat menjaga diri mereka dari “keserakahan” atau “sikap materialistis”, secara otomatis masyarakat akan menjadi lebih baik.

Senada dengan itu adalah pandangan berikut: yang penting bukan mengubah setiap orang atau semua individu dalam masyarakat, tetapi mengubah segelintir “orang kunci”, yakni orang-orang yang menjalankan kekuasaan dalam masyarakat. Gagasan dasariahnya, membuat kaum yang kaya dan yang berkuasa “melihat kebenaran”. Contohnya adalah Robert Owen, seorang sosialis Inggris. Owen mulai dengan upaya meyakinkan kaum industrialis bahwa mereka harus memperlakukan para pekerja mereka dengan lebih baik. Pandangan yang sama masih dominan sampai sekarang di kalangan para pemimpin Partai Buruh Inggris. Tidak terkecuali sayap kirinya. Mereka selalu menyebut kejahatan-kejahatan para majikan hanya sebagai “kekeliruan-kekeliruan” (mistakes). Seakan-akan sedikit argumen akan mempengaruhi bisnis-bisnis besar untuk mengendurkan cengkraman mereka terhadap rakyat jelata.

Marx menyebut pandangan-pandangan itu “idealis”. Tentu ia tidak menentang orang-orang yang mempunyai “idea-idea”. Persoalannya, pandangan-pandangan itu mengasumsikan bahwa idea-idea terpisah dari kondisi-kondisi obyektif yang di dalamnya rakyat hidup. Padahal, idea-idea secara erat terkait dengan corak kehidupan tertentu. Contohnya, “kepentingan diri sendiri” (selfishness). Dewasa ini masyarakat kapitalis membiakkan selfishness, bahkan di kalangan orang-orang yang memiliki kecenderungan untuk mengutamakan orang lain. Seorang pekerja yang ingin melakukan yang terbaik untuk anak-istrinya, atau memberikan tunjangan kepada orang tua mereka, mengerti bahwa satu-satunya cara adalah terus bertarung dengan orang lain: untuk memperoleh pekerjaan yang lebih baik, waktu lembur yang lebih banyak, atau menjadi yang pertama untuk mendapatkan pekerjaan tambahan. Dalam corak kehidupan seperti itu, Saudara tidak bisa menyingkirkan “kepentingan diri sendiri” atau “keserakahan” hanya dengan mengubah pemikiran orang-perorang.

Lebih menggelikan adalah pandangan yang ingin mengubah masyarakat dengan mengubah idea-idea “orang-orang top”. Andaikan Saudara berhasil memenangkan seorang boss besar bagi idea-idea sosialis; kemudian ia berhenti mengeksploitir para pekerja. Apa yang akan terjadi? Boss itu akan mengalami kekalahan dalam persaingan dengan boss-boss pesaingnya, bahkan tersingkir dari percaturan bisnis. Bahkan berkenaan dengan orang-orang yang memangku kekuasaan dalam masyarakat, problemnya bukanlah idea-idea. Alih-alih, problemnya adalah struktur masyarakat yang di dalamnya para pemimpin itu berpegang pada idea-idea tertentu.

Poin ini dapat dikemukakan dengan cara lain. Bila idea-idea adalah pengubah masyarakat, dari manakah idea-idea itu berasal? Kita hidup di dalam suatu jenis masyarakat tertentu. Idea-idea yang dikemukakan melalui surat kabar, televisi, sistem pendidikan, dsb., membela jenis masyarakat tersebut. Bagaimana seseorang pernah sanggup untuk mengembangkan suatu idea yang sepenuhnya berbeda? Karena pengalaman-pengalaman keseharian mereka bertentangan dengan idea-idea resmi masyarakat kita.

Sebagai contoh, Saudara tidak dapat menjelaskan mengapa jauh lebih sedikit orang yang religius sekarang daripada seratus tahun yang lalu hanya dengan merujuk pada keberhasilan propaganda ateistik. Anda masih harus menjelaskan mengapa orang mendengarkan idea-idea ateistik dengan cara yang tidak mereka lakukan seratus tahun yang lalu.

Serupa dengan itu, bila Saudara ingin menjelaskan dampak “orang-orang besar”, Saudara harus menjelaskan mengapa orang-orang lain setuju untuk mengikut mereka. Tidak tepat mengatakan, misalnya, Napoleon atau Lenin telah mengubah sejarah, tanpa menjelaskan mengapa jutaan orang bersedia melakukan apa yang mereka anjurkan. Padahal, mereka bukanlah para penghipnotis massa. Sesuatu dalam hidup masyarakat pada titik tertentu menyebabkan orang-orang untuk merasa bahwa apa yang mereka anjurkan benar adanya.
Saudara hanya dapat memahami bagaimana idea-idea mengubah sejarah bila Saudara memahami dari mana idea-idea itu datang dan bagaimana orang-orang menerimanya. Itu berarti menelisik menembus idea-idea menuju kondisi-kondisi material masyarakat yang di dalamnya idea-idea itu muncul. Itu sebabnya Marx menegaskan: “Bukanlah kesadaran yang menentukan keberadaan, tetapi keberadaan sosial yang menentukan kesadaran.” *** (Disadur oleh Rudolfus Antonius)
Sumber:
Chris Harman, How Marxism Works
(London/Chicago/Sydney South: Bookmarks Publications Ltd, c.u. 2000), hlm. 9-13.
Edisi online disiapkan oleh Marc Newman